Jumat, 02 Desember 2011

Kepribadian Virtual dalam Era Hyper-Social Media : Peluang dan Tantangannya



Oleh
HILDAN FATHONI



Assalamu alaikum para pembaca yang Budiman…
Pada kesempatan kali ini, saya ingin berbagi pemikiran yang kiranya sangat relevan dengan kondisi kekinian kita, sebuah kondisi yang saya sebut sebagai yaitu Hyper-Social Media. Semoga sedikit curhatan saya ini bisa bermanfaat bagi pembaca sekalian. Silahkan disimak.

Apakah yang dimaksud dengan era Hyper-Social Media itu?
Hyper-Social Media sebenarnya hanya “kata rekaan” saya pribadi untuk menggambarkan kondisi masyarakat yang menjadi tergantung segala macam aktivitasnya terhadap keberadaan social media semacam Facebook, Tweeter dan beberapa micro blog lainnya. Pada kondisi awal kemunculannya, social media merupakan wahana pertemanan terutama untuk menemukan teman dan saudara yang sudah lama tidak menjalin interaksi atau terbatas dengan jarak antar wilayah yang sangat jauh. Nah dalam hal ini social media menjadi sarana mudah, murah dan instan untuk bersilaturahim.

Pada perkembangannya, social media menjadi sarana curahan hati (curhat). Pada era sebelum kelahiran social media, urusan pertengkaran antara suami istri adalah urusan pribadi (private matter). Namun pada masa Hyper-Social Media ini, hal tersebut menjadi urusan public (public matter) yang dengan bangga diekspos demi mendapatkan simpati atau mungkin hanya sekedar mengungkapkan rasa sakit hati tanpa memikirkan dampaknya di masa depan.

Di tahun 2010 ada data yang menyebutkan bahwa 80% perceraian disebabkan oleh up date status atau comment di Facebook. Saya teringat dengan peristiwa yang menimpa teman saya di tahun 2010. Sebut saja namanya “Bunga”, beliau saya kenal sebagai pribadi yang sholehah dan cerdas. Pada tahun 2010 beliau dinikahkan dengan pria pilihan orang tuanya dalam usia yang masih sangat muda, karena baru lulus kuliah. Tentunya ada semacam pemberontakan tersembunyi dalam hatinya, itu yang saya rasakan dari status-status di Facebooknya.

Pada suatu kesempatan beliau menuliskan status yang kurang lebih,”Seandainya saya kerja dulu dan menjadi kaya, tentunya saya mampu membiayai hidup orang tua saya tanpa perlu menikah muda”. Pada waktu itu kalau tidak salah beliau sedang dalam kondisi hamil muda. Status tersebut tentunya dibaca oleh teman dan sanak saudaranya, lawong saya saja semapat membaca. Bukan hanya satu atau dua kali saja status senada beliau lontarkan, bahkan berkali-kali. Pada beberapa hari terakhir dia menuliskan telah terjadi “perang” besar di rumahnya karena sepertinya keluarga besarnya marah. Tentu saja, hal tersebut adalah urusan suami istri yang bahkan mertua pun seharusnya tidak perlu tahu, eh…malah ini disebarluaskan di Facebook.

Hal tersebut banyak terjadi hingga saat ini, dimana Facebook dan sejenisnya dianggap seperti “diary”. Setiap orang merasa bebas berekspresi dan serba cuek menuliskan hamburan kata-kata di wall-nya. Tidak ada pemikiran jangka panjang akan dampak besar di belakang hari. Semua serba up date, semua serba public, semua serba di-infotainment-kan.

“Bahkan kita sendiri mendobrak ruang-ruang pribadi kita, membiarkan ketelanjangan kita dilihat para pejalan kaki di Facebook dan Tweeter. Sorak-sorai dan sumpah serapah mereka kita balas dengan comment dan diumpan balik dengan pertamax”.

Nah…era dimana sebagian besar masyarakat begitu tergantung (addict) terhadap social media sehingga merubah (dengan rela) segala hal yang bersifat urusan pribadi (private matter) menjadi urusan public (public matter) ini lah yang saya maksud dengan era Hyper-Social Media.


Analsis SWOT (Strength, Weakness, Opportunity & Threat / Kekuatan, Kelemahan, Peluang dan Ancaman)
Bukan hanya dampak negatif saja yang terkandung di era ini, tetapi juga memuat peluang yang besar untuk mengembangkan citra diri yang positif dan mengembangkan jaringan relasi bagi masa depan kita.

Lalu apa hubungannya dengan Kepribadian Virtual (Virtual Personality)?
Istilah Kepribadian Virtual (Virtual Personality) ini terlintas di posting salah satu penghuni Facebook, saya lupa dengan persis siapa pencetusnya. Sebelum saya uraikan lebih jauh, kita akan sejenak bermain imajinasi tentang kegiatan kita mengisi waktu di Facebook dan sejenisnya.

Pernahkah Anda mengikuti sebuah group di Facebook? Tentu saja sebagian besar dari kita adalah anggota dari suatu grup. Saya sendiri sangat aktif di Online Marketer Group (OMG) dan Grup PNBB (Proyek Nulis Buku Bareng). Nah…di grup Facebook tersebut tentunya kita memliki teman-teman yang sangat ramah dan sellau memberikan “LIKE”, pertamax atapun comment yang membuat kita semakin semangat berinteraksi dan merasa dimanusiakan. Semakin lama kita semakin terlarut dan ada keinginan menggebu-gebu untuk mengadakan KopDar (Kopi Darat) alias ketemuan di suatu tempat dan bercengkerama renyah seperti di Grup Facebook. Saat yang dinantikan pun tiba, Kopi Darat dilangsungkan, tetapi ada yang salah…semua terlihat kaku seperti tidak saling mengenal. Beberapa orang yang foto profile nya sangat Anda kenal dan Anda akrabi, ternyata di dunia nyata sangat lah minder, tidak komunikatif, canggung dan tidak seramah tulisan-tuliasn dan comment-comment nya yang selalu Anda nantikan di setiap up date status dan postingan. Apa yang terjadi???

Anda pernah mengalaminya? Alhamdulillah kalau saya pribadi selama ini merasa teman-teman dalam grup yang saya ikuti sangat ramah, bahkan lebih ramah dari tulisan mereka. Nah…jika Anda mengalami kondisi tidak nyaman seperti di atas, Anda perlu membaca lanjutan tulisan ini.

Setiap orang memiliki kelebihan dan kelemahan, jika dia pandai bersosialisasi di dunia nyata mungkin dia tidak sempat menekuni dunia Social Media atau mungkin sebaliknya. Beberapa orang sangat pandai menulis, bahkan disebut “Macan Kertas”, tetapi interaksi verbalnya sangat terbatas, komunikasi lisannya kurang bagus. Dunia Facebook memiliki pembentukan persepsi sendiri, yang berbeda dengan dunia nyata.

“Gambar dan Tulisan Anda di Facebook dan Tweeter, Dianggap Sepenuhnya Adalah Diri Anda di Dunia Nyata”

Ada yang beranggapan bahwa di era Hyper-Social Media, berlebihan berinteraksi secara virtual hanya akan mengurangi kemampuan alami kita dalam berinteraksi di dunia nyata. Karena kita memakai topeng berupa tulisan dan gambar profile, tanpa kita bisa bermain dengan intonasi suara ketika berbicara, ekspresi wajah, gelak tawa, sentuhan tangan dan saling bertukar makanan. Memang sangat banyak hal yang bisa dilakuakan di dunia nyata, tetapi tidak bisa dilakukan melalui Facebook dan sejenisnya.

Saya sangat setuju dengan pendapat tersebut, oleh karenanya sesekali KopDar sangat lah diperlukan. Akan tetapi, saya juga melihat peluang besar darinya. Apakah peluan besar itu???


Peluang Besar Itu Adalah “THE POWER OF VIRTUAL PERSONALITY”

Apa Itu “The Power Of Virtual Personality” ?
Untuk memperjelas dan mempermudah pemahaman mengenai hal tersebut, kita akan memilah-milahnya dalam pisau analisis SWOT. Dalam hal ini saya akan mengambil contoh dari Facebook.

S=Strength/Kekuatan.
Apa saja kekuatan dari Virtual Personality itu :
  1. Nama Profil : Semaki asli nama Anda, maka akan menambah ketertarikan dan rasa percaya teman-teman di Facebook bahwa pemilik profil adalah benar-benar diri Anda.
  2. Foto Profile dan berbagai foto pribadi : Foto asli Anda sangat menentukan persepsi teman Anda. Bahkan ada yang rela membayar mahal untuk sebuah foto profil Facebook yang berwibawa.
  3. Info Profil : Semakin lengkap informasi yang Anda tampilkan, semakin respek dan percaya teman-teman Anda. Tentunya Anda harus memiliki keamanan ekstra ketat terhadap password dan berbagai informasi pribadi yang sangat rahasia.
  4. Up Date Status, Comment, Tulisan, Dokumen : Semakin bermutu, menginspirasi, menggugah, bermanfaat dab menarik tulisan Anda, maka semakin tinggi “derajat” Anda di mata pembaca.
Dari sini bisa dilihat, bahwa Anda bisa membangun CITRA PRIBADI yang POSITIF hanya dari depan laptop dan langsung tersebar ke ribuan pengguna Facebook.

W=Weakness/Kelemahan.
Apa saja kelemahan dari Virtual Personality itu :
  1. Semua serba terbuka : Keterbukaan dan publisitas cepat dan instan memungkinkan kesalahan dalam status, tulisan dan comment akan menyebar dengan cepat, massif dan sekaligus mendapat respon dengan segera. Maka berhati-hatilah.
  2. Pengetahuan yang minim : Semua kelemahan social media sebenarnya terletak pada penggunanya. Apalagi semaik hari system keamanan dan privasi di Facebook semakin diperbaiki. Sehingga kita bisa mengatur apakah tulisan kita hanya bisa dilihat oleh orang-orang tertentu.
Akun Facebook Anda sepenuhnya mewakili Anda. So…berhati-hatilah.

O=Opportunity/Peluang.
Pada masa sekarang Facebook sudah dijadikan lahan untuk berbisnis. Bahkan beberapa pebisnis sepenuhnya menggunakan Facebook, tanpa blog atau pun website sama sekali. Sekedar informasi saya juga menggunakan Facebook sebagai sarana promosi bisnis. Beberapa diantaranya :
  1. Pusat alat penghemat bahan bakar (BBM dan BBG) :
  1. Sepatu Safety  (Safety Shoes) :
  1. Les Privat Preschool, SD, SMP, SMA dan UMUM :
  1. Pusat Gendongan Bayi Modern :
  1. Pusat Grosir :
dan masih banyak lagi akun Facebook bisnis saya.

“INGAT !!! Menurut sebuah survey media bisnis : 80% Bisnis di ASIA dibesarkan oleh Social Media”

Bahkan seperti kita ketahui bersama, popularitas Obama meningkat pesat di Facebook ketika dia mencalonkan diri menjadi Presiden AS. Mulai dunia bisnis, politik, social, budaya dan banyak sector lainnya bisa di-BOOMING-kan melalui Facebook (dan social media lainnya). Gratis…DAHSYAT pula.

T=Threat/Ancaman.
Jika kelemahan berasal dari internal system Facebook dan internal diri kita pribadi, maka ancaman ini berasala dari luar semuanya itu. Diantaranya adalah
  1. Banyak Cracker : Dunia virtual memungkinkan banyak orang untuk mengakses data pribadi Anda. Maka ada 2 (dua) hal yang akan menjadi bodyguard Anda : Password dan Pertanyaan Rahasia. TIPS : Password>> buatlah minimal 12 karakter, huruf besar dan kecil plus angka, misal : HidupSejahtera2015. Semakin tidak nyambung dengan data pribadi Anda, semakin baik. Pertanyaan Rahasia>> Tulis pertanyaan rahasia dengan ngawur, beri jawaban rahasia yang super ngawur tapi mudah diingat.
  2. Kejahatan : Semakin Anda berlebihan dalam membuka informasi rahasia dan aktivitas harian Anda, maka resiko kejahatan yang akan Anda terima sangat lah besar. Orang akan mengetahui rumah Anda ksosng ketika Anda up date status : “Lagi mudik bareng semua keluarga”. Nah…pencuri mulai beraksi.

Dari sedikit uraian saya di atas, sedikit teruraikan tentang pengertian Virtual Personality. Sekali pun Anda kurang tampan, setidaknya tampankanlah foto profile Anda. Jangan pernah terlibat dalam polemik dan perdebatan kusir di Facebook terutama yang bernada SARA, karena hal tersebut mengurangi kewibawaan Anda di Facebook.

Bentuklah akun Facebook Anda secantik dan setampan Anda ingin diketahui oleh orang lain. Akun tersebut adlaah saudara kembar Anda. Pakaikan baju yang bagus, poles dengan kata-kata bermanfaat, ramahkan dengan aktif mengikuti grup-grup bermutu tinggi. Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat..amin.


Salam Hormat,




HILDAN FATHONI

Reaksi:

2 komentar:

  1. Facebook dibuat untuk DIMANFAATKAN dan DIKENDALIKAN oleh penggunanya, bukan sebaliknya...
    Yuk...bangun personal branding via SosMed. Manfaatkan sebesar-besarnya...Kan GRATIS !!!

    BalasHapus
  2. tulisannya sangat bagus dan menginspirasi, saya tunggu tulisan-tulisan berikutnya. terima kasih

    BalasHapus

Silahkan memberikan KOMENTAR :

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...