Jumat, 18 November 2011

Strata Informasi : Strata Raja, Strata Panglima dan Strata Prajurit


Strata Informasi : Strata Raja, Strata Panglima dan Strata Prajurit

Hildan Fathoni


Malang, 18 November 2011, 2:04 am

Assalamu alaikum para pembaca yang Budiman…

Pada kesempatan kali ini, saya ingin berbagi sedikit pelajaran yang diwariskan oleh kakak-kakak pendahulu saya di organisasi kemahasiswaan dulu. Pelajaran tersebut diberikan sewaktu saya dikader untuk dipersiapkan mengkoordinir seluruh anggota (dipersiapkan belajar memimpin di organisasi). Sedikit flash back, pengkaderan yang diberikan sangat intensif. Jam 7 pagi sampai dengan jam 3 sore saya kuliah, kemudian dilanjutkan dengan aktivitas rutin di orgasasi. Nah…ketika jam 9 malam semuanya dimulai.

Pada tahun 2004, di sepanjang Jl.Veteran Kota Malang (sekarang berdiri Malang Town Square/MATOS) berjajar warung kopi dan makanan lesehan yang buka mulai sore sampai pagi hari. Di situ lah selepas jam 9 malam sampai jam 1 pagi saya dikader. Apa saja pembelajaran yang diberikan?. Sebenarnya sangat banyak, pada kesempatan ini saya akan berbagi tentang 1 (satu) materi, yaitu : Strata Informasi.

Apa Strata Informasi Itu ?
Sebelum memulai, saya ingin bertanya :
1.    Nutrisi (makanan & minuman) apa yang diberikan kepada bayi yang baru lahir ?
Jawaban : Sebagian besar dari kita akan menjawab “ASI”.
2.    Bagaimana akibatnya jika bayi baru lahir langsung diberi makan Rawon Nguling ?
Jawaban : Bayi mengalami gangguan pencernaan.

Pertanyaan-pertanyaan di atas sepertinya bernada “guyon”, mengada-ada dan tidak serius. Padahal sebaliknya, pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi PONDASI dari materi Strata Informasi. Bagaimana bisa demikian?.

Dalam berkomunikasi, tentunya tujuan utamanya (secara sederhana) adalah terjadinya kesepahaman maksud antara pemberi informasi dan penerimanya. Jika Si Ahmad meminta air putih kepada Si Beni, maka Si Ahmad mendapatkan air putih. Bukan kopi atau pun es jeruk. Kurang lebih demikian. Jika Si Ahmad mendapatkan kopi maka ada proses komunikasi yang kurang sempurna. Bisa karena berbeda persepsi atau saling tidak mengerti bahasa masing-masing. Yang jelas hal tersebut menimbulkan mudharat bagi salah satu atau kedua belah pihak. Dalam analogi di atas : Bayi mengalami gangguan pencernaan, karena dia menerima nutrisi yang tidak sesuai dengan “level” pencernaannya.

Lebih jauh lagi, ada semacam patokan dasar : Cara kita berbicara dengan (maaf) tukang becak, akan berbeda dengan cara kita berkomunikasi dengan pengusaha TAXI. Mungkin dikarenakan berbeda tingkat pendidikan atau juga karena beda lingkungan pergaulan. Sehingga berbeda pula pilihan-pilihan kata yang digunakan oleh Tukang Becak maupun Pengusaha Taxi.

Dengan landasan-landasan di atas muncullah Strata Informasi. Supaya kita lebih menikmati visualisasi tentang materi Strata Informasi, kita bisa menonton Film Kolosal “Red Cliff 1 dan 2”. Film tersebut menceritakan tentang Peperangan 3 Kerajaan (Sam Kok) di Daratan China pada masa lalu. Cukup dulu tentang film nya, kita akan langsung menuju ke TKP.

Apa Saja Sistem Strata Informasi Itu ?
Ada tiga tingkatan (strata) dalam lalu lintas informasi, yaitu : Informasi Strata Raja, Informasi Strata Panglima dan Informasi Strata Prajurit.

Informasi Strata Raja
Raja HARUS mengetahui segala hal tentang PANGLIMA dan PRAJURIT nya. Tetapi, Panglima dan Prajurit HARUS tahu sangat sedikit tentang RAJA nya.

Ø  RAJA disini bisa diterjemahkan secara bebas sebagai : kepala rumah tangga, pimpinan perusahaan, ketua organisasi, kepala sekolah, tokoh agama, tokoh spiritual dan banyak pimpinan yang lain.
Ø  PANGLIMA disini bisa diterjemahkan secara bebas sebagai : ibu/istri, ibu bapak, mertua, kakak kandung, paman, jajaran manajemen (manajer dan supervisor), wakil ketua, bendahara, sekretaris umum, dewan guru, walikelas, orang kepercayaan dan pimpinan level menengah lainnya.
Ø  PRAJURIT disini bisa diterjemahkan secara bebas sebagai : anak, adik kandung, anggota biasa, murid, pengikut dan semua orang yang berada di level paling bawah dalam struktur organisasi.

Raja sebagai KEPALA harus memikirkan BADAN dan seluruh anggota organisasinya, supaya sejahtera, terhindar dari bahaya dan tentunya “segaris” dengan visi pimpinannya. Oleh karena itu, ada hal-hal yang tidak perlu dibagikan kepada jajaran dibawahnya. Mengapa? Supaya mereka tidak mengalami sakit “pencernaan” informasi.

Contoh Kasus 1 :
Seorang CEO sedang merencanakan untuk mengakuisisi perusahaan pesaing. Dia memerintahkan jajaran manajernya untuk membuat proyek bersama dengan perusahaan tersebut. Para manajer diberikan alasan bahwa proyek ini sangat potensial dan membutuhkan modal yang besar, sehingga kita membutuhkan perusahaan pesaing supaya proyek dapat dilaksanakan.

Para manajer sangat antusias karena jika proyek tersebut sukses, mereka akan mendapatkan BONUS dan tiket UMROH bersama. Tetapi mereka tidak tahu bahwa tujuan utama dari proyek tersebut adalah untuk mengetahui KEKUATAN MODAL dan SDM dari pesaing. Apalagi para karyawan, mereka tinggal melaksanakan job description yang sudah ada, plus ada tambahan untuk overtime (lembur).
Nah, informasi jenis ini hanya boleh diketahui oleh para pemegang saham/OWNER dan CEO itu sendiri, jika jajaran di bawahnya sampai tahu dikhawatirkan akan merusak TUJUAN BESAR dibaliknya. Maka “makanan” informasi yang diberikan adalah:

  1. Makanan informasi untuk MANAJER : Buatlah blue print dan hubungilah manajer dari perusahaan pesaing, tawarkan proposal, traktir makan, berikan hadiah untk istri para manajer.
  2. Makanan informasi untuk KARYAWAN : Ikuti instruksi manajer dan supervisor masing-masing…titik.

Ketika proyek telah rampung dilaksanakan :
  1. Perusahaan mendapatkan profit karena proyek sukses.
  2. CEO dan OWNER mengetahui kemampuan MODAL dan sumber daya…plus KELEMAHAN dan prospek perusahaan pesaing. Hal ini dipergunakan untuk pengambilan keputusan akuisisi atau merger.

Contoh Kasus 2 :
Di dalam rumah tangga, kepala keluarga menjadi ujung tombaknya. Dia menetapkan visi besar keluarganya dan memobilisasi anggota keluarganya supaya sama-sama sejahtera dengan visi besar tadi. Tentunya visi tersebut di-SIMPAN di dalam pikiran terlabih dahulu untuk diolah menjadi kalimat-kalimat sederhana yang mampu dipahami oleh anggota keluarga yang lain.

Supaya “makanan” informasi sesuai dengan kekuatan daya cerna istri, mertua, saudara dan anak-anaknya. Selebihnya tinggal menyesuaikan ritme komunikasi dengan anggota keluarga yang lain agar “menuruti” nya dengan legowo demi kesejahteraan bersama.

Kata SENIOR saya dulu : (bahasa sederhananya)
“ Manajemen itu sebenarnya adalah SENI…Seni memerintah orang lain, tetapi mereka tidak merasa diperintah. Malah dengan suka rela dan bangga akan menuruti kemauan kita “.

Informasi Strata Panglima
PANGLIMA adalah badan tempat menempelnya kaki, tangan, dan semua pernak-pernik anggota tubuh. Dia menjadi PENENGAH. Dia tahu tentang keinginan RAJA nya dan SANGAT banyak tahu tentang bawahannya. Untuk menerjemahkan keinginan RAJA menjadi instruksi teknis yang rinci adalah tanggung jawab PANGLIMA.

Informasi jenis ini hanya boleh diketahui oleh OWNER, CEO dn sesame menejer saja. Jangan sampai PRAJURIT tahu makna/tujuan/misi sebenarnya dari sebuah job description.

Jika informasi strata PANGLIMA diketahui PRAJURIT maka :
“ Akan terjadi kegaduhan, ketidaktenangan, was-was dan roda organisasi berjalan lamban”.

Banyak terjadi di dalam organisasi (apa pun), para bawahan mengetahui konflik antara para menejer, sehingga para karyawan “dipaksa” oleh keadaan untuk saling memihak. Tujuannya agar posisinya aman dan terlindungi. Nah disini lah potensi konflik horizontal mulai muncul. Sebaiknya jika ada konflik antar sesama manajer, maka diselesaikan diantara mereka saja. Secara “offline”, tanpa harus up date status di Facebook dan Tweeter, dan sembunyi-sembunyi. Supaya bawahan tenang dan tetap bekerja sesuai bagiannya.

Contoh Kasus 1 :
Manajer marketing (penggalian dana nasabah) suatu bank bersitegang dengan sesama manajer marketing, dikarenakan rebutan nasabah kelas kakap. Seharusnya masalah tersebut diselesaikan berdua saja, jika butuh penengah tinggal minta bantuan kepaa kepala cabang.

Bayangkan jika para marketing tahu konflik tersebut. Mereka akan mendukung manajer masing-masing. Bahkan akan terlarut untuk saling mencari kelemahan supaya pihaknya menang. Hmmm…jadinya semakin runyamkan? Karena karyawan itu adalah “BAYI” yang hanya boleh diberi ASI, jangan diberi makan Rawon Nguling. Karena akibat dari “salah cerna” informasi ini kegiatan rutin yang utama tersishkan karena masing-masing karyawan fokus pada memenangkan konflik.

Contoh Kasus 2 :
Seorang ibu/istri berkonflik dengan mertuanya. Sebaiknya anak-anak dan adik kandung jangan tahu. Cukup diselesaikan antara ayah/kepala keluarga, ibu/istri tersebut dan pihak mertua. Si anak dan adik HANYA tahu kalau si istri dan mertua akur, sering masak bareng, bercanda ramah di depan televisi, saling berboncengan sepeda motor, pokoknya tahu baiknya…titik.

Jika anak atau adik tahu, apalagi ibu mempengaruhi si anak dan mertua mempengaruhi anggota keluarga lain…walah..ya jadi perang dunia. Nah…informasi strata PANGLIMA ini hanya boleh diketahui : Ayah/kepala keluarga, Ibu/istri tersebut dan Pihak mertua (3 orang cukup).

Informasi Strata Prajurit
PRAJURIT adalah KAKI, TANGAN, TELINGA, MATA. Yang kesemuanya digerakkan oleh instruksi KEPALA dan gerakan BADAN.

Tidak perlu saya tuliskan panjang lebar. Pada posisi ini terdapat : bawahan, karyawan, anak kandung, adik kandung, anggota biasa (nonpengurus organisasi), pembantu, pengikut, dan semua pekerja teknis.

Hanya ada 1 hal yang terpenting :
“ Ikuti Job Description (panduan kerja, perintah orang tua, chech list, dan lain sebagaianya) “

Tentunya cara penyampaiannya harus sangat halus dan sangat komunikatif, sehingga orang-orang di level ini SANGAT LOYAL, bangga, mengidolakan kita, mendapat petunjuk dari kita, merasa hidupnya kita tolong, kita adalah pimpinan yang penuh suri tauladan, sederhana, merakyat, ngemong dan masih banyak predikat positif lainnya.

Seperti wejangan SENIOR saya di atas :

“ Manajemen itu sebenarnya adalah SENI…Seni memerintah orang lain, tetapi mereka tidak merasa diperintah. Malah dengan suka rela dan bangga akan menuruti kemauan kita “.

Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat. Saya mohon pamit karena setelah menulis sekitar 2 jam saya jadi ngantuk. Layar computer menunjukkan pukul 1:57 AM.

Kurang lebihnya saya pribadi mohon maaf, jika ada yang bisa kita diskusikan silahkan hubungi saya. Karena saya penuh dengan kelemahan.
Wassalamu alaikum…



Didukung oleh:




Reaksi:

1 komentar:

  1. Semoga yang sedikit ini bermanfaat...ditunggu saran dan masukannya

    BalasHapus

Silahkan memberikan KOMENTAR :

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...