Senin, 21 November 2011

Pojok Parenting 2 : Cara Balita Belajar Shodaqoh







Kota Malang : Kantor Teladan Group, 21 November 2011, 00:01 WIB

Assalamu alaikum para pembaca yang budiman,
Pada kesempatan kali ini saya ingin berbagi sedikit tentang pengalaman unik kami bersama si buah hati, si Cerdas Nazila. Lebih tepatnya beberapa bulan yang lalu ketika kami jalan-jalan di sekitar Gajahmada Plasa Alun-alun Kota Malang.

Begini ceritanya :
Setelah berjalan-jalan mengelilingi toko di Gajahmada Plasa, si kecil bilang,”Es Cicim..ndaa (Ice cream bunda..)”. Nah, itu pertanda si kecil nagih janji bundanya supaya membelikan Ice Cream Cone McD di Mitra Plasa, sebelah Gajahmada Plasa. Karena anak satu ini aktif banget, jadinya sering jalan sendiri di depan kami berdua dan pastinya tidak mau gandengan tangan. Dengan jaket lucu warna Pink nya, si kecil berjalan cepat di depan kami. Sekitar 10 meter kemudian dengan santainya dia berhenti, merogoh kantung jaket kanan dan kiri, mengambil uang receh (kalau tidak salah Rp 200,- yang dia minta tadi sebelum berangkat), dan diberikan kepada ibu pengemis di sebelah kirinya. Lalu tanpa aba-aba si kecil melanjutkan langkah kecilnya ke boot outdoor kepunyaan McD yang sudah dekat. Kami pun saling berpandangan, “Haaa…”.

Sambil melanjutkan langkah, kami pun senyum cengar cengir karena masih belum ngeh dengan kejadian barusan. Segera kami menyusul si kecil karena dia sudah di depan boot McD. “Beli es cicim ..sayang???” kata bundanya. “Heeh..”,saut si kecil.


Flashback
Sepulang dari jalan-jalan tadi, kami berdua masih belum percaya 100%. Dengan antusiasnya kami berbincang sambil cengar-cengir memperhatikan si kecil yang sibuk membuka jaket pink, helm pink dan sepatu Crock putihnya. Kami mencoba mem-flashback mulai tadi pagi dan juga beberapa hari sebelumnya.

Setiap pagi kami bertiga belanja bersama ke warung di gang sebelah. Maklum, saya sendiri bekerja dari rumah jadinya sering mengantar istri belanja. Setiap sebelum berangkat biasanya si kecil minta uang,”Duit yah”. Saya pun memberikan uang recehan yang berceceran dilantai, hasil “kerajinan tangan” si kecil. Setelah belanja biasanya kami mampir ke Alfamart untuk mengecek harga Susu DANCOW 1+ 800 gram, apakah yang rasa Plain (tawar) masih Rp 51.000,- atau sudah naik menjadi Rp 58.000,-. Sekalian membeli Biskuat kesukaan si kecil dan Beng-beng Hazelnut kesukaan saya. Setelah acara cek harga selesai, kami memberikan lagi uang Rp 500,- kepada si kecil untuk selanjutnya diberikan kepada tukang parkir.

Di rumah pun demikian, jika ada pengamen atau pengemis sering kali si kecil yang memberikan uang receh, tentu saja kami tetap mendampingi. Hal ini sudah berlangsung sekitar 1 tahun, semenjak dia bisa berlari (si kecil tidak pernah belajar berjalan, karena bisanya langsung lari). Si kecil pun sangat antusias jika ada pengamen, pengemis dan tukang parkir. “Duit yah..”, kata si kecil.

Menurut hemat kami, karena kebiasaan tersebut sudah berlangsung agak lama, maka terbentuk semacam gerak reflek dan persepsi pada ingatan si kecil. Jika setiap ada pengamen, pengemis dan tukang parkir dia harus meminta uang receh kan jadinya kurang praktis. Mungkin dia memikirkan cara praktis yang tanpa harus menunggu meminta uang, dia bisa langsung memberikan uang kepada orang-orang tersebut. Nah…setelah sejenak berpikir, ternyata ini tujuan si kecil selalu meminta uang receh dan menyimpannya di saku setiap kali kami akan bepergian.

Baru beberapa minggu terakhir ini kami ngeh. Supaya kebiasaan ini tetap berlanjut, kami sepakat untuk selalu menyediakan uang receh ntuk si kecil. Semoga tetap berlanjut dan menjadi kebiasaan positif sampai dewasa kelak…amin.

Wassalamu aaikum…

Salam Hormat



Hildan Fathoni dan Alfi Faizati

Reaksi:

1 komentar:

  1. Memang benar ya...anak kecil itu daya tangkap dan daya serapnya sangat TINGGI.

    makanya kita harus SANGAT berhati-hati terhadap segala hal yang dia :LIHAT, DENGAR dan RASAKAN.

    Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat...

    BalasHapus

Silahkan memberikan KOMENTAR :

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...