This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Kamis, 17 April 2014

TAHLILAN dan Local Wisdom

Tahlilan & Local Wisdom

Selalu ada kontroversi dalam Tahlilan, ya setiap diri kita memiliki kuasa atas pikiran. Terlepas dari itu semua, tahlilan dimana pun selalu menyimpan kisah unik. Setiap daerah memiliki ceritanya sendiri.

Di desa asal saya, tahlilan (dan yasinan) sudah berlangsung puluhan tahun hingga sekarang. Pada tahun 1990 an suguhannya sangat sederhana, salah satu yang saya sukai adalah kerupuk sambel. Hanya kerupuk disuguhkan dengan sepiring sambal pedas encer. Seruangan bisa ramai jika sudah saatnya bersantap. Sepertinya sekarang sudah tidak ada krupuk sambel. Tidak ada iuran mingguan sehingga tuan rumah yang menanggung seluruh biaya konsumsinya. Sajiannya boleh sederhana maupun mewah karena masyarakat sudah menerima kesepakatan tersebut.

Lain kondisinya dengan tahlilan di tempat tinggal kami sekarang di Kota Malang. Hari ini adalah pertemuan ke-5. Anggota yang terdaftar 34 orang dan yang hadir 23 orang. Ada kesepakatan bahwa tuan rumah tidak boleh menyajikan nasi, sayur dan lauk pauk, hanya boleh menyajikan gorengan, teh panas dan kopi panas. Karena ada kekhawatiran akan terjadi “panas-panasan” suguhan antar tetangga, sehingga keluarga yang kurang mampu akan tersisihkan. Keunikan lainnya adalah iuran minggu sebesar minimal Rp 3.000,- per orang dan tidak ada kewajiban untuk membayar. Semuanya suka rela dan tidak akan diumumkan siapa saja yang tidak membayar serta tidak akan ditagih. Karena semua uang yang terkumpul juga akan dikembalikan untuk keperluan jamaah.

Merajut Mimpi Warga
Malam ini selepas acara Tahlilan dilanjutkan dengan obrolan dengan Pak RT. Kami berandai-andai antara jamaah Tahlilan dan pengurus RT menjalin kerjasama. Beberapa diantaranya :
  1. Memiliki pengurus kelengkapan jenazah. Setidaknya ada 1 orang di RT.03 ini yang bertanggung jawab menyediakan 6 paket perlengkapan jenazah (kain kaffan, batu nisan dan sebagainya. Sehingga pukul berapa pun ada warga yang meninggal dunia maka selalu tersedia perlengkapannya, bahkan hingga untuk 6 jenazah.
  2. Memiliki Balai RW. Di daerah kami belum ada balai RW, padahal balai tersebut sangat bermanfaat untuk kegiatan warga.
  3. Memiliki lahan makam untuk warga RT.03. Di kota Malang yang semakin padat, tentu di masa depan akan semakin sulit mencari lahan untuk pemakaman warga. Maka impian untuk memiliki lahan makam cukup masuk akal.
  4. Senam pada hari minggu. Jika program ini terlaksana, mungkin akan menjadi program percontohan di Kota Malang. Setiap hari Minggu pagi seluruh warga di RT.03 semua melakukan senam bersama di jalan kampung. Wah…semakin guyub nih.


Semua itu adalah mimpi-mimpi warga yang kami bangun di jamaan Tahlilan. Selama 7 hari dalam seminggu, hanya kamis malam lah kami semua benar-benar melepaskan pekerjaan masing-masing dan berkumpul dalam jamaah yang guyub ini. Bukan kah ini salah satu tujuan kita bermasyarakat? Bagaimana dengan lingkungan rekan-rekan? ^_^

Salam Seduluran,


HILDAN FATHONI

CP : 081 2525 4782

Senin, 07 April 2014

CITA-CITA NAZILA



 CITA-CITA NAZILA

Assalamu alaikum para Pembaca yang Budiman...
Bulan Maret dan April 2014 ini kami sedang menikmati sebuah buku terbaru karya Ayah Edy dengan judul “Rahasia AYAH EDY Memetakan Potensi Unggul Anak”. Sebelum buku ini diterbitkan kami telah memesannya jauh-jauh hari. Karena kami yakin buku ini bagus maka kami langsung memesan 3 eksemplar sekalian kami bagikan kepada keluarga. Secara tidak kami duga terjadilah “keajaiban” pada putri kami NAZILA.


Selama seminggu ini dia menceritakan tentang cita-citanya. Kisah tersebut spontan meluncur dari mulut kecilnya yang cerewet. Sewaktu kami menjemputnya dari sekolah, di perjalanan dia mengungkapkan jika sudah besar kelak si kecil bercita-cita menjadi guru SD dan TK. Wah...dapat ide dari mana nih kok tiba-tiba ingin jadi guru?

Nazila : “Yah...nanti kalau sudah gedhe Kakak pengen jadi guru SD dan TK”.
Saya : “Wah keren banget itu”.
Nazila : “Iya...nanti murid Kakak buanyak. Kakak punya sekolah yang tuinggi. Segini terus segini terus tuinggi (tangan kanannya seperti menunjukkan bangunan bertingkat-tingkat seperti di kampus perguruan tinggi). Nanti ada tamannya luas, ada rumputnya, bunganya terus ada tempat makannya buanyak. Ada binatangnya, kelinci, sapi, kuda, kambing...buanyak”.
Saya : “Ada harimaunya ndak?”.
Nazila : “Harimau? Hiiii...takut. Nanti dicakar...hauuuuuwww (sambil menirukan suara harimau). Ya ndak ada dong ayah ini”.

Saya : “Hehehe...kalau ada muridnya Kakak yang TK ngompol gimana?”.
Nazila : “Ya biarin aja”.
Saya : “Lho kalau ngompol semua kan sekolahnya banjir?”.
Nazila : “Wahahahaha...ayah ini guyon tok” (tau sendiri kan Nazila kalau ketawa cetar banget).
Saya : “Kakak kan mau jadi Bu Guru. Dipanggil Bu Guru Nazila dong, trus gimana Kakak mengajar murid-muridnya?”
Nazila : “Gini lho Yah : Anak-anak ayo sekarang membaca huruf A”.
Saya : “Wahahaha...gemesin deh Kakak ini”.
Nazila : “Nanti temen Kakak si Satria jadi Pak Guru. Terus si Abil juga”.

Obrolan berlangsung mulai di kendaraan hingga di dalam rumah. Sepertinya dia antusias sekali dengan Bu Gurunya sampai-sampai bercita-cita menjadi guru. Hari-hari berikutnya kami tunjukkan gambar-gambar di internet tentang berbagai sekolah terindah di dunia juga taman-taman bunga yang berwarna-warni.

Ayah HILDAN dan Si Cantik NAZILA

Dua hari ini kami mudik. Si kecil pun dengan antusias menceritakan cita-cita kepada Mbah Uti dan Tantenya. Jadi seperti hiburan tersendiri mendengarkan dia bercerita panjang lebar tentang gedung sekolah, murid-murid, taman dan binatang yang dipelihara di sekolah. Kami yakin ini merupakan petunjuk awal dari Tuhan supaya kami terus menggali minat dan potensi bawaan si kecil. Klop banget dengan tema buku parenting yang baru kami baca.

Eksplorasi dan Stimulasi
Sekali lagi kami yakin ini bukan kebetulan, antara buku baru yang kami beli dan cita-cita dadakan si kecil. Karena rencana Tuhan sangat detail dan saling berkaitan secara harmonis, maka kejadian ini juga dalam skenarionya. Akan tetapi ini hanya lah petunjuk awal. Masih banyak proses yang harus kami lakukan supaya kami benar-benar menemukan minat dan bakat bawaan si kecil. Bukan hanya minat dan bakat yang terpengaruh oleh lingkungan, tetapi “sesuatu” yang muncul dari dalam dirinya. Langkah selanjutnya adalah melakukan eksplorasi dan stimulasi.

Pada proses ini kami mengajaknya berkeliling dan melihat berbagai profesi yang kami temui di perjalanan. Misalnya ketika kami mampir di sebuah toko roti. Kami menunjukkan kepadanya tentang profesi pembuat roti. Mulai proses membuat adonan roti, memasukkan adonan ke dalam oven, mengambil roti dari oven, memotongnya, menghias hingga menyajikannya ke deretan rak di dalam toko. Dia sempat surprise melihat pisau panjang untuk membelah roti.
Saya : “Kak itu kan pedangnya Dai Gunder (salah satu film kartun robot kesukaannya)”.
Nazila : “Waaaaa...masak Dai Gunder bikin roti....hahahaaaaa ayah ini”.

Di lain kesempatan kami mengajaknya ke toko sepatu. Dia minta difoto sambil memegang sepatu wanita. Kecil-kecil sudah narsis nih...hehehe. Tidak masalah yang penting dia happy menjalani proses ini. Dia juga sering memperhatikan penjual roti kukus keliling, penjual di pasar bunga, penjual kelinci di pasar minggu, guru, polisi di pinggir jalan sampai pembuat mebel. Sehingga banyak sekali diskusi yang terjadi seputar pekerjaan orang-orang tersebut. Apalagi dia menemukan kosa kata baru atau hal-hal unik selama mengamati. Pokoknya dia kritis dan super cerewet. Pada prinsipnya semua kami lakukan dalam suasana menyenangkan dan penuh senda gurau.

Kapan Bakat Aslinya Akan Muncul?
Terus terang kami belum tahu pastinya dan kami tidak terburu-buru. Kami menyediakan waktu 1 tahun, 2 tahun atau bahkan 5 tahun sampai dia benar-benar menemukan pannggilan jiwa terhadap suatu minat dan bakat bawaan. Proses ini sangat penting, karena akan menentukan cita-cita dan tujuan hidupnya kelak. Terlebih lagi tujuan hidup tersebut sebagai landasan dalam menentukan life plan dan model pendidikan yang akan dijalaninya. Apakah pendidikan formal, homeschooling, sekolah alam atau model pendidikan lain yang saat ini belum kami ketahui.

Bagi kami untuk saat ini adalah memberikan pengalaman nyata sebanyak-banyaknya agar si kecil memiliki cukup pengetahuan. Karena pengalaman dan pengetahuan ini lah yang menjadi dasar dalam membangkitkan minat dan bakat sesungguhnya. Proses masih panjang, tidak perlu tergesa-gesa. Setiap kali ada kesempatan, kami berusaha menstimulusnya. Yang perlu digarisbawahi bagi kami adalah SELALU LAKUKAN DALAM KEBAHAGIAAN.

Karena :
“Orang-orang SUKSES melakukan segala sesuatu dalam KEBAHAGIAAN dan kejayaan menghampirinya”

Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat.
Wassalamu alaikum...

Salam Keluarga Indonesia,



Ayah HILDAN & Bunda ALFI

CP : 081 2525 4782


Senin, 17 Maret 2014

Tips Soft Selling Untuk GROSIRAN dan B2B ala Hildan Fathoni



Tips Soft Selling Untuk GROSIRAN dan B2B ala Hildan Fathoni

Selamat sore para pembaca yang Budiman,
Suatu ketika Ibu saya bercerita. Ada toko pakaian di Kota Dampit (Kab.Malang) yang lebih sering beliau kunjungi dari pada toko lain. Padahal harga di toko tersebut lebih mahal. Usut punya usut, ternyata Ibu pemilik toko tersebut ramah (grapyak). Misalnya sering menyapa Ibu saya : “Bagaimana kabarnya Bu, kok lama ndak kelihatan. Ini lho ada baju-baju baru dating. Dipilih saja nanti kalau sampai rumah kurang pas ya bisa ditukar”. Beberapa dari kita pernah mengalaminya kan?

Terkait materi briefing di kantor kami pada hari ini, berikut coba saya rangkumkan materinya. Materi ini sangat berkaitan dengan produk kami, yaitu www.JualSepatuSafety.com dan www.Lampionku.com .Yuk dilanjut…

Ada 2 kecenderungan penjual dalam mendekati pembeli :
a.      Hard Selling
b.      Soft Selling

HARD SELLING :
Penjual sangat ngoyo agar barang dan jasa laku sebanyak-banyaknya dan secepat-cepatnya. Mereka akan mengisi pembicaraan dengan :
“Pak hari ini mumpung ada DISKON besar dan berakhir nanti jam 4 sore”
“Produk kami paling bagus Bu, kalau tidak segera diambil ya saya berikan ke pembeli lain”
Atau dengan follow up yang terlalu sering, misalnya mengirim email setiap menanyakan rencana pembelian produk atau mem-broadcast penawaran produk setiap hari. Teknik teknik hardselling  ini mungkin cocok untuk penjual produk retail yang mengejar volume penjualan dari banyaknya pembeli. Tetapi kami rasa kurang cocok untuk tipikal usaha kami, yang notabene mengandalkan penjualan per project dan pembelian grosir.

SOFT SELLING :
Prinsip dari soft selling yang kami praktekkan adalah “Kami tidak menjual, tetapi membiarkan pelanggan untuk MEMBELI”. Prinsip ini harus meresap ke alam bawah sadar Customer Service (CS) kami. Karena secara tidak sadar akan dimunculkan dalam pembicaraan dengan customer. Jika CS terlalu menggebu-gebu untuk menjual maka bisa timbul ketidaknyamanan pada mereka.

Secara detail prinsip tersebut sebagai berikut : 
Menciptakan suasana nyaman pada customer
Baik dalam komunikasi SMS, telepon, email dan juga bertemu langsung. Misalnya :
 “Tidak perlu kuatir Bu, kami akan menjawab pertanyaan Ibu tanpa wajib membeli kepada kami. Kami hanya ingin membantu”.
Follow up secara WAJAR
Kami menekankan untuk follow up (menghubungi kembali, menindaklanjuti) klien secara wajar. Misalnya 2-3 hari setelah penawaran kami berikan. Itu pun berisi pertanyaan sederhana : “Bagaimana rencana pemesanan Lampionnya Pak. Jika ada pertanyaan kami selalu siap membantu. Terima kasih”.
Menghubungi customer setiap hari hanya akan menimbulkan perasaan “diburu”. Customer tentu akan merasa ada yang salah. 
Konsultasi
Produk-produk kami dijual sesuai katalog, tetapi sering kali customer memesan produk sesuai kebutuhan mereka. Produk custom dan tidak ada di katalog. Nah tipikal produk seperti ini mengharuskankan CS untuk melakukan konsultasi. Sehingga harus berulang kali kirim email, SMS, dan telepon. Kami berusaha memberikan waktu lebih kepada customer untuk memikirkan beberapa alternatif solusi. Karena kami ingin pelanggan puas, membeli lagi lebih banyak dan mereverensikan usaha kami. Soft selling lebih jauh lagi untuk menjaga pelanggan lama dan mengundang pelanggan baru…dengan CARA yang LEMBUT.

Demikian sedikit sharing dari kami semoga artikel sederhana ini bermanfaat.

Salam SUKSES MULIA,


Hildan Fathoni
CP : 081 2525 4782

Jumat, 14 Maret 2014

Evolusi Pemahaman Profesi

Evolusi Pemahaman Profesi

Selamat pagi para pembaca yang Budiman…
Saya mencoba mengingat ulang persepsi dan pemahaman saya tentang berbagai pekerjaan di sekitar. Keluarga saya memiliki latar belakang karier di bidang pendidikan yang sudah mengakar, sehingga sedikit banyak juga berimbas terhadap pengetahuan saya. Pada awal mendaftar sebagai mahasiswa D3 Manajemen Pemasaran pada 2002, cita-cita saya sangat sederhana. Mencari kerja sambil kuliah, menyelesaikan kuliah secepat mungkin dan kembali bekerja untuk mencapai karier tertinggi di suatu perusahaan.



Setelah saya berhasil diterima di jurusan tersebut, saya mulai mencari tahu pekerjaan apa yang cocok untuk mahasiswa tentunya yang part time. Alih-alih mencari pekerjaan tersebut, saya justru tertarik dengan model yang baru saya kenal yaitu bisnis MLM (Multy Level Marketing). Bisnisnya sangat unik, begitu perhatian terhadap perkembangan member dan memberikan kesempatan yang sama untuk meraih sukses financial.

Pada akhir 2002 ini terjadi pergeseran pandangan tentang karier. Sebelumnya saya ingin menjadi professional muda, kemudian beralih ingin menjadi distributor sukses di bisnis MLM (wirausahawan). Sejak saat itu saya lebih banyak bergaul dengan buku-buku kewirausahaan, seminar bisnis, group meeting dan workshop. Banyak fakta dan opini tentang kewirausahaan di Indonesia yang saya dapatkan. Salah satu yang popular “Penduduk Indonesia < 2% yang menjadi entrepreneur, sehingga minim lapangan kerja yang tercipta dan meningkatlah angka pengangguran”. Wajar jika kemudian saya berpikir jika semakin banyak pengusaha maka kehidupan masyarakat Indonesia pasti lebih sejahtera.

Dari titik ini saya semakin semangat berwirausaha, mengajak teman-teman kuliah untuk mempunyai bisnis dan sedikit menganggap remeh profesi yang tidak sejalan dengan ghiroh kewirausahaan. Teman-teman kuliah saya dahulu sampai menyebut saya Pak HILDAN, Pak HD, Pak High Desert (nama perusahaan MLM yang saya ikuti). Sebutan tersebut lahir karena penampilan, tindakan dan seluruh waktu saya kerahkan untuk mengajak berwirausaha. Baik secara personal maupun terang-terangan di dalam kelas perkuliahan.

Periode awal ini berlangsung mulai akhir 2002 hingga awal 2004, pada tahun 2004 saya non aktif dari kergiatan di MLM. Setelah itu saya menemukan dunia yang lebih menarik lagi, yaitu dunia organisasi kemahasiswaan. Namun tetap saja teman-teman memanggil saya Pak HD. Pokoknya melekat banget brand itu pada diri saya. Padahal dulu sewaktu aktif di MLM penampilan saya sangat parlente, tetapi sekarang hanya pakai kaos oblong dan celana jeans (khas penampilan anak organisasi).



Fase 1 : Perlawanan
Fase ini bisa disebut sebagai the next level dari fanatisme saya. Bukan fanatisme kepada perusahaan MLM, tetapi kepada semangat  entrepreneurship. Fase ini dimulai pada pertengahan 2008 hingga awal 2010.

Masa-masa ini bisa disebut sebagai masa alogika, masa hyper fanatic, masa galau atau sejenisnya. Saat itu saya sudah menikah dan belum memiliki pekerjaan tetap. Sebagai perwujudan dari semangat entrepreneurship saya berani mengambil resiko membuka usaha yang sama sekali belum dikuasai. Di awali dengan membuka BMT (Baitul Maal wat Tamwil) sejenis Koperasi SImpan Pinjam Syariah, yang pada akhirnya harus ditutup karena kurangnya pengetahuan, modal dan pendampingan. Lalu dilanjutkan dengan membuka usaha percetakan dan konveksi bersama rekan-rekan mahasiswa.

Pada tahun 2009 ini usaha saya lumayan menghasilkan. Percetakan dan konveksi kami mulai kebanjiran order dari mahasiswa di berbagai kampus negeri dan swasta di Kota Malang. Hingga ada sedikit kesombongan yang muncul. Pernah suatu hari ketika baru memiliki akun Facebook, secara terang-terangan saya menyatakan membenci suatu profesi. Saya anggap profesi tersebut membuang banyak anggaran daerah, mengkerdilkan impian para mahasiswa, inefisien, dan malas. Mungkin karena kesombongan tersebut usaha kami mendapat cobaan dan akhirnya ditutup dengan banyak kerugian.

Fase 2 : Toleransi
Masih beruntung pada awal 2010 kami dipertemukan dengan konsep bisnis online dan Tuhan memberikan kesempatan kepada kami untuk mempelajarinya langsung kepada MASTER nya, yaitu Bapak Agus Piranhamas (www.PembicaraInternetMarketing.com). Kami merasa masih diberikan jalan untuk memperbaiki diri dan mendapatkan kembali harga diri sebagai pejuang kewirausahaan.

Pada fase ini saya berusaha lebih memahami keberagaman profesi dan tidak memandang rendah profesi sebagai professional. Disamping mulai mencari peluang kerja, saya juga mulai membangun sedikit demi sedikit perusahaan baru.

Periode ini saya banyak merenung dan belajar dari keluarga dan rekan-rekan. Pelajaran pertama saya peroleh dengan mengamati perjalanan hidup Ayahanda Bpk. BASHORI alm. Beliau guru di SDN JAMBANGAN 03 Kec.Dampit. Mulai usia muda beliau aktif di berbagai organisasi kemasyarakatan. Berbagai kumpulan pengajian dan kepengurusan di lembaga kemasyarakatan beliau ikuti. Saya mendapati beliau sangat bahagia setiap hari, hampir tidak pernah marah dan selalu tertawa lepas. Meskipun untuk mengurus berbagai perkumpulan tersebut beliau banyak menghabiskan biaya, energi dan waktu. Ibu sering bilang “Bapak itu ba’da maghrib selalu sibuk ke perkumpulan, mungkin hanya sehari ada waktu luang”. Entah itu perkumpulan yasinan, diba’aan, pengajian keluarga, rapat RW, rapat ta’mir masjid dan banyak kegiatan lain.

Untuk urusan karier beliau tidak terlalu ngoyo. Padahal Bapak sudah pernah direkomendasikan menjadi kepala sekolah, tetapi beliau tidak berkenan. Beliau lebih senang menjadi guru biasa dan menikmati mengajarkan mata pelajaran Agama Islam kepada siswa-siswi beliau. Begitu juga untuk urusan bisnis. Beliau memiliki beberapa lahan persawahan dan perkebunan, tetapi sepertinya kegiatan bertani lebih menyerupai HOBI dari pada bisnis yang sesungguhnya. “Dari pada diajak ke Mall, ya lebih enak pergi ke kebun tebu”, begitulah kata beliau. Untung urusan pitungan padi, lahan dan berbagai urusan jual beli, beliau delegasikan kepada Ibu kami. Karena Bapak tidak tegaan jika berdagang, tidak tega ambil untung dan tidak tega menawar harga. Hingga akhir hayat beliau, waktu sehari-harinya dihabiskan untuk ibadah di rumah, berkumpul di jamaah, mengajar di SD dan berkebun. Dan satu yang pasti…beliau sangat bahagia.

Pelajaran karier selanjutnya saya peroleh dari mengamati para profesional, pekerja mandiri dan akademisi di sekitar. Para dosen yang giat melakukan penelitian dan menghasilkan karya untuk masyarakat. Para seniman yang memperoleh pengakuan internasional yang karya seninya benar-benar menggugah penikmatnya. Para penulis buku yang melambungkan imajinasi dan semangat hidup pembacanya dan para pemerhati sosial yang tanpa lelah memberdayakan masyarakat miskin. Semua itu adalah profesi-profesi mulia yang dijalankan sepenuh hati sesuai passion pelakunya.

Kemudian saya mulai akrab dengan buku-buku parenting, pendidikan dan pengembangan diri. Ada hasil riset selama 30 tahun yang dilakukan oleh Howard Gardner yang menyimpulkan bahwa setiap orang memiliki satu kelebihan yang akan membawanya menjadi top of the top jika terus diasah dan dikembangkan. Maka tidak heran jika begitu beragamnya profesi yang saya temui, karena memang masing-masing dari mereka memiliki bakat bawaan lahir dan minat yang berbeda-beda.

Pada titik ini saya mulai sadar bahwa jika kita sudah menemukan passion pada suatu bidang dan kita sangat mencintainya, maka urusannya bukan lagi uang karena uang hanya bonus. Jika passion kita adalah pada kegiatan sosial kemasyarakat dan kita tekuni hingga pada tingkat top of the top. Maka hidup kita bergairah dan kita akan memperoleh “hadiah” berupa kebahagiaan hidup, rasa syukur dan luasnya persaudaraan. Jika passion kita adalah dunia akademik dan kita sangat cintai, maka akan banyak terlahir terobosan-terobosan keilmuan yang kita hasilkan. Kelimpahan materi akan mengikuti seiring bertumbuhnya kualitas karya kita dan yang terpenting hidup kita bergelimang kebahagiaan. Begitu juga dengan passion sebagai entrepreneur dan juga banyak profesi lain.

Fase 3 : Kolaborasi
Ini lah fase yang akan saya alami dan sedang saya cita-citakan. Mari kita bayangkan setiap orang mencintai profesinya dan menghormati profesi saudara-saudaranya. Setiap orang begitu AHLI di bidangnya, sehingga jika kita menyebut nama Bapak HERI CAHYO sama dengan menyebut Spesialis Ghost Writer, Bu ALFI berarti Ahlinya Lampion, Pak ALIX WIJAYA berarti Pakarnya Produk Ibu dan Bayi, Pak SURONO berarti Pakar Bibit Unggul, Ayah EDY berarti Pakar Parenting, Pak SYAIFOEL HARDY berarti Pakar Pendidikan Profesi Perawat dan setiap diri kita benar-benar identik dengan sebuah profesi. Wow…saya membayangkan sebuah negara besar yang sejahtera dan bahagia.

Kemudian setiap profesi tersebut saling berkolaborasi. Misalnya Bu ALFI ingin membangun sekolah alam, maka akan menghubungi AYAH EDY. Untuk membuat website beserta media iklannya membutuhkan jasa penulis, maka akan menghubungi Bapak HERI CAHYO dan jika membutuhkan ahli-ahli lain semua sudah tersedia. Semua profesi berkolaborasi untuk saling mendukung untuk mewujudkan mimpi-mimpi para ahli lain.

Tentu kita senang menjalin relasi dengan para pakar yang pemahamannya sangat mendalam. Bukan hanya seseorang yang keahlian dan pengetahuannya rata-rata. Bisa menjawab semua pertanyaan tetapi tidak ahli di bidang mana pun. Fase ini lah yang bagi saya menjadi kesadaran tertinggi bagi pemahaman profesi saya pribadi. Persaingan seketat apa pun akan mampun kita menangkan, karena kita punya satu bidang yang benar-benar kita kuasai di atas pengusaan orang-orang pada umumnya. Ditambah lagi terjadi kolaborasi harmonis dengan para ahli di bidang lain. Saya bisa membayangkan sebesar apa bangsa Indonesia kelak. Anda juga kan?

Salam Indonesia Raya,



HILDAN FATHONI

CP : 081 2525 4782

Rabu, 12 Maret 2014

Review Webinar Sesi 1 : “Pengantar Homeschooling (HS) Anak Usia Dini”

Review Webinar Sesi 1 : “Pengantar Homeschooling (HS) Anak Usia Dini”

Selamat malam para pembaca yang Budiman…
Malam ini kami mengikuti webinar sesi 1 yang bertemakan “Pengantar Homeschooling Anak Usia Dini”, acara ini diprakarsai oleh www.RumahInspirasi.com. Banyak sekali pengetahuan yang kami peroleh. Terutama mengenai kekhawatiran kami : “Apakah anak homeschooling akan kesulitan dalam bersosialisasi?”. Jawaban yang kami dapat dari sesi ini sebagai berikut.


Sosialisasi Anak Usia Dini
Anak-anak usia dini kebutuhan sosialisasi utamanya adalah dengan kedua orang tua. Hal ini dikarenakan pada masa ini ada penanaman nilai-nilai dasar kehidupan, sehingga pihak yang paling berwenang mengajarkannya adalah kedua orang tua. Kedekatan emosional paling mendasar juga harus diberikan oleh orang tua. Maka porsi sosialisasi dengan kedua orang tua idealnya lebih banyak, dari pada dengan teman sebaya dan lingkungan di luar keluarga. Tidak salah jika nantinya anak-anak usia dini yang ikut homeschooling akan menghabiskan sebagian besar waktunya bersama orang tua, baik di dalam rumah mau pun di luar rumah.

Sosialisasi dengan lingkungan luar sebatas untuk bersenang-senang, bukan dijadikan sebagai sarana dalam menanamkan nilai. Hal ini selaras dengan prinsip bahwa rumah adalah tempat belajar terbaik dan ibu adalah guru pertama.

Berproses, Bukan Berkompetisi
Kami juga mulai memahami bahwa dalam homeschooling seluruh prosesnya harus berorientasi pada RASA BAHAGIA dan ALAMIAH. Pembelajaran dilakukan setiap hari dalam kegiatan apa pun. Ketika mandi pagi, memasak, sarapan dan bercengkrama. Orang tua tidak perlu dipusingkan dengan kurikulum apa yang harus diberikan. Orientasi HS pada usia ini adalah membangun kedekatan emosional. Sehingga ukuran kesuksesannya adalah anak bahagia, orang tua bahagia. Begitu mudah dan simple bukan?. Ketika anak menyukai belajar PIANO, maka tujuannya adalah untuk bersenang-senang. Bukan bertujuan agar anak kelak berprofesi menjadi PIANIS HANDAL. Ketika anak belajar menggambar, maka hasil akhir yang dituju adalah anak bergembira. Bukan supaya dia menjadi PELUKIS TERKENAL.

Kita sebagai orang tua jangan terpancing untuk membandingkan dan berkompetisi dengan orang tua lain. Ketika orang tua lain membanggakan balitanya sudah bisa CALSTUNG, maka kita harus focus pada tujuan : “Anak ku harus bahagia dan dekat dengan ayah bundanya”. Ya…itu saja, hindari berkompetisi karena akan memaksa anak mengikuti ego orang tua. Anak akan dipaksa untuk menjadi yang terpandai, terbaik, nomor 1 dan paling membanggakan, padahal bukan demikian tujuan pendidikan anak usia dini.

Dalam hal bertata bahasa, anak-anak usia dini lebih disarankan untuk mempelajari bahasa yang digunakan sehari-hari. Jika di rumah menggunakan bahasa Jawa, maka lebih baik anak juga mempelajari bahasa Jawa dalam percakapannya. Mengajarkan bahasa non sehari-hari bisa ditunda jika usia anak sudah lebih dewasa, karena bahasa tersebut membuat anak tidak memiliki partner bicara aktif di lingkungannya.
Demikian sedikit review tentang sesi 1 webinar malam ini. Ingat…tujuan UTAMA-nya adalah “Anak Bahagia, Orang Tua Bahagia”. Cukup itu saja, tidak kurang tidak lebih. Semoga review sederhana ini bermanfaat.

Salam Keluarga Indonesia,



HILDAN FATHONI

CP : 081 2525 4782

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...